Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amalan shalih. Namun, ada beberapa amalan yang bisa membuat puasa seseorang sia-sia, sehingga ia hanya mendapatkan rasa haus dan lapar tanpa pahala yang maksimal. Hal ini telah dijelaskan dalam berbagai dalil yang shahih.


1. Puasa Tanpa Meninggalkan Perbuatan Dosa

Salah satu peringatan utama dalam Islam adalah bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perbuatan dosa seperti dusta dan perbuatan sia-sia.

Dalil: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta serta perbuatan bodoh, maka Allah tidak butuh dari puasanya yang hanya sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari No. 1903)

Hadis ini menjelaskan bahwa jika seseorang tetap melakukan perbuatan dosa seperti berdusta dan bertindak bodoh, maka puasanya tidak bernilai di sisi Allah.


2. Puasa Tanpa Menjaga Lisan

Sering kali seseorang berpuasa tetapi tetap membicarakan hal yang tidak baik, seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), atau berkata kasar.

Dalil: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bisa jadi seseorang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar, dan bisa jadi seseorang yang shalat malam tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah No. 1690, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hadis ini memperingatkan bahwa jika seseorang tidak menjaga lisannya, maka ia hanya akan mendapatkan rasa lapar dan haus tanpa pahala yang berarti.


3. Tidak Menjaga Pandangan dan Perbuatan

Menjaga pandangan dan perilaku sangat penting dalam puasa. Jika seseorang tetap melihat hal-hal yang haram atau melakukan maksiat lainnya, puasanya bisa kehilangan nilai.

Dalil: Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

"Jika kamu berpuasa, maka hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu juga berpuasa dari dusta dan dosa. Janganlah menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu tetap dalam keadaan tenang dan wibawa pada hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu seperti hari biasa." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No. 3544, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Hadis ini mengajarkan bahwa puasa harus mencakup seluruh aspek kehidupan, bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum.


4. Tidak Mendirikan Shalat

Puasa tanpa shalat ibarat membangun rumah tanpa pondasi. Shalat adalah rukun Islam yang utama, dan meninggalkannya membuat ibadah lainnya tidak bernilai.

Dalil: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya, maka ia telah kafir." (HR. At-Tirmidzi No. 2621, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Orang yang meninggalkan shalat berarti telah merusak keislamannya, sehingga puasanya pun tidak memiliki makna yang sempurna.


5. Berpuasa Tetapi Tidak Meningkatkan Ketaqwaan

Puasa seharusnya meningkatkan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

Dalil: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Jika seseorang berpuasa tetapi tidak mengalami peningkatan ketakwaan, maka ia kehilangan esensi utama dari ibadah ini.


Kesimpulan

Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan. Agar tidak sia-sia, hendaknya kita memperbanyak amal shalih, menjaga ibadah wajib, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan keberkahan Ramadhan yang sebenarnya, bukan sekadar rasa lapar dan haus semata.